top of page

Bubur (tidak) Diaduk

  • Writer: Fionaferd
    Fionaferd
  • Aug 23, 2020
  • 2 min read

Updated: Sep 24, 2020

True human bonding is never organized blocks and boundaries;

careful and perfectly tidy.

It's more like a mess in harmony,

flaws colliding, but without destroying.


Dulu aku adalah salah satu tipe orang yang kalo makan bubur gak pernah mau diaduk, karena kupikir yaa kacang harus sama kacang, daging harus sama daging, cakwe sama cakwe, tongcai sama tongcai. Supaya apa? Supaya kacang sama tongcainya gampang diciduk dan dibuang kalau ga suka. Supaya daging sama cakwe nya bisa kuatur mau disendok seberapa agar taste-nya sesuai idealismeku. Dulu caraku berteman juga sama. Harus yang sama-sama suka satra, punya value sejenis, jago bahasa juga, bahkan sampe ke background keluarga yang bisa relate, dst. Jelek ngga? Mungkin ngga juga. Mungkin waktu itu proses yang dibutuhkan memang seperti itu.


Sekarang gimana? Sekarang tongcai-nya pun masih kuciduk sih selagi masih berkumpul, trus kubuang, tapi kacangnya kubiarin, habis itu buburnya diaduk rata. Makin kesini makin lelah juga kalau tiap suap harus kontrol takaran sesuai idealisme, dan ternyata kalau tercampur rasanya enak juga. Ada tongcai-tongcai yang menurutku bener-bener susah ditoleransi, misalnya bad manner, judgmental (ngga nanya jelasnya gimana dulu, langsung ngejudge & ngocehin), ketidakpekaan, pamrih/ngga tulus, kecenderungan untuk maksa seseorang melakukan hal yang orang itu gak nyaman. Itu pasti kusisihin karena ga tahan asinnya. Tapi ada kacang-kacang yang bukan urusanku yang ga mengganggu dan ga perlu kuurusin yang bisa ditoleransi dalam berteman, misalnya agama, ras, warna kulit, orientasi sex, gaya hidup, bentuk badan/wajah, kelengkapan anggota tubuh, etc.


Selama kacang tidak memaksa cakwe untuk harus menjadi kacang juga dan/atau sebaliknya, menurutku ga jadi masalah. Karena kalau semua bisa diaduk tanpa kehilangan identitas masing-masing, disitu value-nya menguat dan Bhineka Tunggal Ika nya jalan, apalagi kalo bisa saling menghargai sambil tukar pikiran, ada banyak banget hal baru yang positif yang jadi muncul. Intinya, sekarang aku jadi sayang kalau makan buburnya ga diaduk.


Ikatan manusia tidak harus terkotak-kotak dengan batasan yang apik

berhati hati dan tertata rapi

Justru itu lebih seperti berantakan yang selaras,

kekurangan yang saling bertabrakan tapi tidak saling menghancurkan.

Recent Posts

See All
When It Comes to Love

She's an onion with a pair of ears Prudently listen for a reason to open up a layer The twat got a pair of eyes but failed to see through...

 
 
 

Comments


IMG_20180929_135214 (1).jpg
About Me

I believe that those who write are those who aren't afraid of telling their truth and those who read are those who appreciate the honesty of others. If personalities can be seen through colors, as you might already guess, icy blue and greenish blue are my color. :3

 

Read More

 

Join my mailing list
  • White LinkedIn Icon

© 2018 by Fionaferd

bottom of page