Menunggu
- Fionaferd
- Jan 17, 2020
- 3 min read
Updated: Sep 24, 2020
Gadis itu menutup instagram dan meletakkan smartphone-nya. Dia memandangi sandwhich dan air mineral kecil yang dia beli di pojokan minimarket bandara ibukota. Dia belum sarapan tapi tidak terlalu lapar, kenyataannya dia beli makanan dan minuman cuma supaya bisa numpang duduk sambil mengisi baterai smartphone-nya. Pesawatnya masih 3 jam lagi dan punggungnya mulai pegal. Diapun mengusap belakang lehernya sambil menghela napas.
Ini pertama kalinya dia ketinggalan pesawat di maskapai sendiri tempat dia bekerja. Sungguh memalukan semua insan maskapai. Rasanya mirip seperti karyawan yang habis gajian lalu malah salah mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening bodong. Haknya hilang, tapi salah sendiri. Jadi tiket itu memang tiket konsesi yang sudah dia issued jauh-jauh hari. Hanya ada satu kali penerbangan dalam sehari yang dioperasikan oleh anak perusahaan, dan itupun rute transit. Belakangan ini rute direct ke sekitar kota tempat sanak saudara dan kucing-kucingnya tinggal banyak yang ditutup dan dia tidak terbiasa dengan rute transit, ditambah akhir tahun ini ditutup dengan pekerjaan yang sangat melelahkan. Jadi mungkin itu sebabnya dia salah membaca delay notice. atau mungkin tidak. Mungkin dia cuma diselamatkan oleh semesta saja.
Dia teringat kata-kata staff bandara sebelum dia pergi. "Mba, ternyata ada untungnya mba tidak ikut penererbangan hari ini," karena kebanyakan nonton Vagabond dia mulai berpikir apa pesawatnya dibajak teroris..., "karena infonya pesawatnya misconnect di tempat transit." Oh, syukurlah semua selamat, tapi nyaris saja dia terdampar semalam di pulau lain, pikirnya. Tiketnya sih tentu hangus karena statusnya sudah check-in dan karena hari ini sudah masuk cuti bersama sebelum Natal, dia tau betul pengurusan pengajuan konsesi baru tidak akan praktis prosesnya. Dia sempat menelepon ke beberapa teman di kantornya untuk mencari solusi, tapi lalu menyerah karena tidak enak hati mengganggu, jadi dia memutuskan untuk berkhianat dan membeli tiket maskapai lain saja. Ada sih rasa ketidakrelaan uangnya masuk ke revenue perusahaan maskapai lain, tapi apa boleh buat kalau sudah kepepet begini. Dia mengingatkan diri dia harus berangkat hari ini.
Akhirnya dia buka buku yang sedari tadi dia bawa kesana kemari keluar masuk konter bandara. Buku itu dia beli sebelum Natal tahun lalu, dan akhirnya dibuka juga segel plastiknya semalam. Tadinya Ia kira untuk menemani transitnya di pulau lain, ternyata untuk menemaninya ketinggalan pesawat di pojokan minimarket bandara ibukota. Dia hirup bau buku baru itu. Mau dibuka satu jam atau satu tahun kemudian, bau buku baru selalu sama; membawa efek menenangkan. Jujur saja, awalnya buku itu menarik perhatiannya karena covernya, dia ingat betul itu. Judul bukunya "11:11" dan kebetulan saat itu dia lagi suka-sukanya sama lagu yang dinyanyikan Taeyeon yang judulnya juga "11:11". Tapi tunggu, dia tidak sedangkal itu yang beli buku cuma karena judul semata. Tentu saja yang jadi penentu beli tidaknya suatu buku itu review atau sinopsis di belakang bukunya:
"Orang bilang, jodoh takkan kemana. Aku rasa mereka keliru. Jodoh akan kemana-mana terlebih dahulu sebelum akhirnya menetap. Ketika waktunya telah tiba, ketika segala rasa sudah tidak bisa lagi dilawan, yang bisa kita lakukan hanyalah merangkul tanpa perlu banyak kompromi." Fiersa Besari, penulis buku yang menyelipkan album CD lagu buatannya untuk menemani pembaca membaca bukunya. Jujur dia berpikir itu konsep yang keren, seni sastranya diolah maksimal.
Dari remaja dia selalu berpikir jodoh itu ya begitu. Kemana-mana, tapi tidak goyah. Ketika kita tidak takut kehilangan orang karena kita melepaskan dia kepada takdir, biar kemana-mana dulu buat bertumbuh, kita jadi terlihat sangat mandiri, kuat, antimainstream dan keren. Yah, tidak sekeren itu lagi sih ketika 10 tahun berlalu dan yang dilepas ke takdir ternyata tidak kembali. Tapi yang jelas, jika pada akhirnya jodoh itu muncul, entah dalam rupa orang yang dilepas maupun dalam rupa lebih baik lagi, sudah pasti akan teramat sangat spesial dan matang. Itu sebabnya dia sudah memutuskan: Lebih baik lama sendiri, daripada salah memilih. Umur tidak menjadi masalah.
Setelah beberapa lembar membaca, dia semakin mantap. Semua selalu ada silver-lining nya kalau kita mau kalem dan mencari. Pengalaman buruk tidak selalu apes total. Misalnya hari ini, dia ketinggalan pesawat tapi jadi bisa terbang direct tanpa misconnect, dan jadi ada kisah buat direnungi dan diceritakan. Atau bagaimana di dalam bulan yang sama, dia juga ketinggalan kapal ke Singapur dengan sengaja karena lupa membawa paspor, yang benar-benar rekor karena dari lahir dia sama sekali tidak pernah jadi penyebab dirinya ketinggalan suatu transportasi. Tapi itu nanti di lain cerita. Intinya memang benar semesta bekerja, termasuk di dalam keapesan seseorang.




Comments